Polri: Tak Ada Pembiaran Kasus GKI Yasmin
Maria Natalia | Jimmy Hitipeuw | Kamis, 26 Januari 2012 | 03:57 WIB
KOMPAS/ANTONY LEE Hari Minggu (15/1/2012) pagi ini suasana sekitar GKI Taman Yasmin Bogor kembali memanas. Anggota DPR Eva Sundari (PDIP) yang turun dari mobil dikejar-kejar massa sebelum akhirnya diamankan polisi.
JAKARTA, KOMPAS.com — Umat GKI Yasmin bersama Forum Bhinneka Tunggal Ika meminta Kepala Polisi RI Jenderal (Pol) Timur Pradopo mengingatkan jajaran Polda Jawa Barat untuk tidak melakukan pembiaran terhadap intimidasi yang dilakukan kelompok pro Wali Kota Bogor yang melarang mereka beribadah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution membantah bahwa pihaknya melakukan pembiaran atas aksi intimidasi yang terakhir terjadi pada Minggu (22/1/2012).
"Enggak ada pembiaran. 100 orang personel polisi disiapkan, itu artinya sudah siap betul. Karena apa, kami kan diultimatum untuk setiap penyelesaian masalah sosial jangan sampai ada tumpah darah dan jatuh korban," ujar Saud di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (25/1/2012).
Ia menyatakan, polisi justru yang memberikan pemahaman kepada kedua belah pihak untuk saling mengalah dan tidak terjadi bentrokan. Polisi pun, kata dia, telah mengetahui isu yang berkembang bahwa kelompok tersebut akan membubarkan massa GKI yang akan beribadah di salah satu rumah jemaat.
"Kita berikan pemahaman pada jemaat karena massa di luar sudah teriak-teriak. Kalau diteruskan, akan ada penyerangan. Akhirnya yang melaksanakan ibadah pun memahami dan mereka pulang dengan dikawal anggota kita. Demikian juga massa yang mau merangsek ke dalam, kita berikan pemahaman," jelasnya.
Sebelumnya diberitakan, seperti dalam minggu-minggu sebelumnya, intimidasi kepada jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin kembali terjadi pada Minggu (22/1/2012) pagi. Kelompok penentang GKI Yasmin memaksa jemaat membubarkan diri. Mereka mengeluarkan kata-kata kotor dan memaksa jemaat GKI Yasmin untuk keluar dari rumah tersebut.
Aksi adu mulut juga sempat terjadi antara kelompok penentang dan Lily Wahid yang saat itu mendampingi umat GKI beribadah. Lebih dari 100 personel yang berjaga di sekitar tempat tersebut, diakui jemaat, tak dapat berbuat apa-apa dan justru membiarkan intimidasi itu berlanjut.
Selasa, 24 Januari 2012 | 09:12 WIB
Briptu Dodi Babak Belur Dikeroyok Anggota Ormas
TEMPO.CO, Bogor - Kepolisian Resor Bogor masih memburu anggota organisasi keagamaan yang melakukan pengeroyokan terhadap anggota Satuan Lalu Lintas Kepolisian Sektor Caringin, Brigadir Satu Dodi Sukmajaya.
Korban terluka parah di kepalanya setelah dihantam helm dan batu hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Palang Merah Indonesia, Bogor.
"Pelaku boleh tidak menyerahkan diri secara baik-baik kepada kami. Tapi mereka akan diburu sampai dapat dengan segala risikonya," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor, Ajun Komisaris Imran Ermawan, melalui pesan singkat yang diterima Tempo, Selasa pagi, 24 Januari 2012.
Menurut Imran, peristiwa penganiayaan terhadap Briptu Dodi terjadi ketika korban melaksanakan pengaturan lalu lintas di Simpang Cimande, Caringin, Bogor, Jawa Barat, pada pukul 14.00, Ahad lalu. Saat itu korban berusaha melerai keributan antara pengemudi bus dengan ormas keagamaan.
Keributan itu, kata Imran, terjadi gara-gara ada salah satu anggota rombongan ormas yang baru pulang demo menolak GKI di Taman Yasmin tersenggol bus yang keluar dari arah Cimande. Kelompok ormas keagamaan ini tidak terima dan melakukan pemukulan terhadap badan bus tersebut.
"Kemudian datang Briptu Dodi untuk melerai. Tapi kelompok ormas yang mengaku beragama tersebut tidak terima. Korban malah dipukuli dengan helm dan batu," jelas dia.
Akibat aksi main hakim sendiri ini, kepala Briptu Dodi luka di bagian kanan, jidat, dan atas kepala sebelah kiri. Saat itu korban masih memakai seragam lengkap. Sebenarnya dia berusaha menyelamatkan diri dan sempat lari hingga sejauh 50 meter. Namun nahas, Briptu Dodi terjatuh, sehingga kembali dipukuli oknum ormas kegamaan tersebut. Korban dibawa ke RS PMI Bogor untuk pengobatan.
Imran mengatakan penganiayaan terhadap polisi adalah tindakan biadab. Aksi kekerasan itu tidak perlu dilakukan ormas yang mengaku beragama, apalagi penganiayaan kepada abdi negara yang sedang melaksanakan tugas untuk kebaikan masyarakat. "Dan Briptu Dodi dipukuli karena niatnya melerai pertikaian."
ARIHTA U SURBAKTI
[Non-text portions of this message have been removed]
Kunjungi situs INTI-net
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
Subscribe our Feeds :
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet
*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*