6 Januari 2012

[inti-net] Terjajah di Negeri Sendiri ?

 

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/01/05/29105/terjajah_di_negeri_sendiri/#.TwaQN9WDqRI

Terjajah di Negeri Sendiri ?
Oleh : Darwin Putra Sitepu.

Setiap orang menolak keras penjajahan. Namun pernahkah kita tahu bahwa penjajahan itu bukan lagi didasari oleh keinginan menguasai dari bangsa lain, melainkan dilakukan bangsa sendiri terhadap saudara-saudara sebangsanya. Pernahkah kita merasakan adanya rasa empati, gotong royong, ramah tamah, dan tolong menolong diantara kita. Kini semua itu, sebuah keniscayaan jika kita salah melangkah. Bangsa ini merindukan persatuan.

Sebagaimana kerinduan setiap bangsa adalah persatuan. Sejak Indonesia diploklamirkan sebagai negara yang diakui oleh dunia sebagai negara berdaulat dalam kurun waktu yang tidak muda lagi, 66 Tahun sudah terlewati. Namun fenomena yang terjadi bahwa kita tidak sedang membangun peradaban yang mengarah pemerataan, melainkan peradaban yang mengarah kepada pertumbuhan yang biasanya harus ada korban dari sebuah pertumbuhan yang terjadi.

Begitu juga dengan fenomena yang sangat mengusik hati kecil sebagai bagian dari bangsa Indonesia, dimana banyak saat ini saudara-saudara kita menuntut keadilan yang tidak kunjung hadir. Dalam tahun 2011 sudah beberapa kali kasus-kasus memilukan dalam penegakan hukum terjadi. Kasus nenek Minah yang mengambil satu buah kakao, anak kecil yang mencuri sandal seorang polisi di masjid, pencuri ayam yang dilakukan oleh rakyat kecil yang menjadi korban pembiaran pemerintah selama ini harus dihukum tanpa ada pembelaan sekalipun.

Tidak saja itu, seperti kasus besar korupsi tidak ada matinya, efek jera tidak pernah diadakan. Omongan kosong selalu diutarakan di media, sehingga rakyat semakin apatis dengan penyelesaian kasus korupsi, apalagi mencegah perilaku korupsi jika semua hanya janji semata. Pemerintah legislatif dan eksekutif dari periode ke periode selalu menghasilkan kebohongan yang terekam jelas dibenak rakyat Indonesia.

Di waktu ada penangkapan nelayan kita yang berlayar di perbatasan yang kita klaim masih dalam wilayah Indonesia, semua seperti kebakaran jenggot ingin mengutuk, bahkan ingin berperang. Berperang mengandalkan kuantitas belaka tidaklah sebanding dengan kualitas yang ingin dilawan. Tahukah kita apa yang menjadi alasan para nelayan menangkap ikan hingga ke perbatasan dan tidak jarang melewatinya? Barangkali kita tidak pernah mau mendengar keluh kesah mereka di sana. Walau kita punya wakil rakyat namun tidak akan pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi jika berada di balik media dan kantornya.

Para nelayan sebagai salah satu tombak penting bangsa Indonesia selain sebagai negara agraris juga sebagai negara perikanan yang kaya akan keanekaragaman ikan di laut, harus secara massif diberdayakan. Para nelayan sebenarnya merasa 'terjajah' di negeri sendiri, banyak wilayah berlayar menangkap ikan sudah diambil dengan cara-cara ilegal, dan sudah dirusak dengan hadirnya perusahaan-perusahaan yang tidak ramah lingkungan. Sehingga demi sesuap nasi mereka harus berlayar ketengah laut, walau dengan resiko ditangkap atau pun terjangan ombak. Kesejahteraan mereka juga tidak merata, bahkan masih ada para nelayan yang hidup penuh resiko demi sesuap nasi saja, tidak seperti kebanyakan orang yang dengan mudah mencuri uang negara demi sebuah kepuasan diri.

Persoalan Tanah

Setelah dari perairan, mari kita telisik kembali persoalan pertanahan yang kini menjadi fenomena besar yang masih terjadi. Sedihnya lagi, tanah air sendiri harus dijual dengan mengorbankan anak bangsa sendiri. Sudahkah kita bercermin bahwa kita ini saudara sebangsa. Lihat saudara kita di Papua, mereka terus menuntut keadilan dan kesejahteraan benarkah mereka sudah mendapatkannya. Jika benar demikian tidak mungkin mereka masih meneruskan teriakan ingin lepas dari Indonesia, dan terus membesarkan OPM (Organisasi Papua Merdeka). Sebagai saudara sebangsa kita yang sampai sekarang masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya yang terjaga oleh mereka, alam yang masih asri dikujungi. Wilayah tambang yang sangat berharga. Semuanya niscaya bernilai tinggi jika kebodohan masih menjajah negeri ini.

Lihat juga kasus serupa di Mesuji Lampung, Kalimantan Tengah, dan Bima Nusa Tenggara Barat yang selalu bergejolak meminta keadilan atas kepemilikan lahan mereka. Namun kembali negara dimana? Pembantaian hewan di Kalimantan Tengah demi perluasan lahan sawit dan menjauhkan perkebunan dari hewan mamalia yang sangat terancam punah, orangutan yang kini kehilangan habitatnya itu harus terus menjadi korban. Biadabnya lagi, kasus di Mesuji Lampung yang bergejolak dari tahun lima tahun silam telah merenggut 30 jiwa anak bumi pertiwi kita hanya demi meminta keadilan. Pembantaian sadis yang dilakukan secara brutal oleh pihak perusahaan dan aparat yang diduga aparat negara tersebut membuktikan kepada kita bahwa negara bukan lagi tempat mengadu keadilan yang sesungguhnya. Kasus Bima Nusa Tenggara Barat juga demikian, demi meneriakkan keadilan atas usaha untuk menutup izin perusahaan yang membunuh mata pencaharian masyarakat harus diperhadapkan pada aparat yang bringas sejak dulu hanya bisa berkata posisi aparat itu dilematis.

Rakyat seakan hidup tanpa negara, karena negara kini seolah tidak lagi berpihak pada rakyat. Banyak kasus-kasus besar seperti korupsi dan sengketa lahan semua itu didasari oleh salah melangkah pemerintah selama ini. Negara yang dikenal dengan perairannya dan pertaniannya harus tergusur dengan masuknya perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan rakyat untuk menjadi kuli dinegeri sendiri. Menggusur lahan rakyat demi keuntungan sepihak. Rakyat menjadi resah dan pilu sehingga tidak jarang kita temui anak jalanan di tiap kota di tanah air ini yang semua datang karena tidak tahu harus kemana lagi.

Pejabat dan wakil rakyat tidak lagi seiya sekata dalam usaha persatuan untuk membangun peradaban bangsa, melainkan urusan-urusan politik yang terus mengusik hati nurani rakyat. Pencitraan selalu hadir ditengah kondisi memilukan yang tengah terjadi. Lembaga negara dari tingkat terendah dan terbesar semakin banyak adanya, semua merasa perlu membangun lembaga dan komisi atas nama keadilan, namun kembali lebih banyak menghabiskan uang negara dibandingkan kinerjanya.

Kita tidak ingin rakyat semakin resah. Sebuah perubahan harus dimulai dari diri sendiri, namun lebih baik jika datang dari pemimpin kita. Siapapun yang kini menjadi pemimpin di negeri ini harus berlaku benar dalam bertindak, dan bertindak dalam kebenaran. Jangan biarkan rakyat menderita untuk terus merasakan dijajah di negeri sendiri. Tahun yang baru merupakan satu langkah yang harus dimulai dengan penuh semangat persatuan diantara kita. Demi bangsa yang bebas dan beradab. Semoga!. ***

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Negeri Medan, berdomisili di Tanjung Morawa

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
Untuk bergabung di milis INTI-net, kirim email ke : inti-net-subscribe@yahoogroups.com

Kunjungi situs INTI-net   
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
Subscribe our Feeds :
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

.

__,_._,___