Tradisi Memasang Bunga Segar Saat Imlek
TEMPO.CO, Bandar Lampung - Bunga segar bagi warga Tionghoa Teluk Betung merupakan salah satu yang wajib hadir saat merayakan tahun baru Imlek. Bunga segar diyakini akan membawa keceriaan, semangat dan keberuntungan di tengah kemeriahan pergantian tahun. "Kami biasa memasang bunga tangkai segar di altar dan ruang tamu," kata A Yen, warga Teluk Betung, Bandar Lampung, Minggu 22 Januari 2012.
Tradisi itu membuat warga Tionghoa di kawasan Pecinan Teluk Betung selalu menyerbu pusat penjualan bunga segar yang marak setiap menjelang Imlek. Jumlah pedagang akan bertambah banyak sehari sebelum perayaan Imlek. Mereka menjajakan aneka jenis bunga yang menebarkan keharuman, seperti bunga sedap malam, mawar, krisan, lili hingga carnation.
Warga Tionghoa biasanya merangkai bunga segar dalam pot bunga. Khusus untuk di altar, warga lebih suka memajang bunga sedap malam. Bunga itu, kata A Yen, sebagai penghormatan untuk Dewi Kwan Im.
Selain sebagai bagian dari ritual sembahyang, bunga segar bisa menetralisir aroma asap hio yang menyesakkan napas dan membuat mata pedih. Selain itu, bunga sedap malam bisa mempercantik altar dan menyeimbangkan unsur alam. Pokonya ada banyak makna dari tradisi warisan leluhur kami ini,� ujar A Yen.
Bunga yang berwarna cerah, seperti mawar, lili, krisan dan carnation dipasang di ruang tamu. Bunga-bunga itu akan dirangkai untuk mempercantik tampilan ruang tamu. "Selain lampion dan lilin, bunga bisa membuat tamu betah untuk bercengkerama di ruang tamu," kata perempuan pecinta bunga segar itu.
Salah seorang pedagang bunga, Sutini, mengatakan bunga segar didatangkan dari Bandung, Bogor dan Jakarta. Sepekan sebelum perayaan Imlek, mereka sudah berburu ke pusat-pusat grosir bunga tangkai segar hingga ke petani langsung. "Bunga diantar pada malam hari untuk menjaga kesegaran," ucap Sutini yang sudah berjualan bunga segar selama lima belas tahun.
Para pedagang bunga menaikan harga dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. Harga satu tangkai bunga sedap malam dijual Rp 10 ribu atau tiga kali lipat dari harga pada hari biasa yang hanya Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu. Harga bunga angrek mencapai Rp 15 ribu per tangkai. "Rata-rata pedagang bisa menjual dua ratus tangkai bunga segar berbagai jenis," tutur Sutini.
Ratusan warga Tionghoa sudah memadati pusat penjualan bunga sejak pukul 04.00 pagi. Mereka harus berebut dengan warga lain agar tidak kehabisan bunga yang dicari. "Kalau kesiangan bisa tidak kebagian. Biasanya jam tujuh pagi sudah tinggal sisa dan tidak segar lagi," kata Li Ta, warga Gudang Kaleng, Teluk Betung.
NUROCHMAN ARRAZIE
Blog LowonganNet : Pusat Informasi Lowongan Terlengkap
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/LowonganNet
Yee Sang, Makanan Keberuntungan di Malam Pergantian Tahun
| Jodhi Yudono | Sabtu, 21 Januari 2012 | 14:01 WIB
Yee Sang, makanan malam pergantian tahun
Oleh Indriani Eriza
Tahun baru Imlek tak hanya identik dengan barongsai, angpao, kue bulan, maupun barang-barang yang berwarna merah, tetapi juga Yee Sang.
Yee Sang merupakan hidangan utama yang selalu dinanti setiap pergantian tahun baru China. Biasanya disantap oleh anggota keluarga pada malam sebelum pergantian tahun.
"Prosesi menyantap Yee Sang ini selalu dinanti-nanti oleh keluarga baik tua maupun muda," ujar seorang warga keturunan Tiongha yang tinggal di Kemayoran, Jakarta, Aletta (40).
Hidangan Yee Sang, kata dia, terdiri dari paduan sayuran dan ikan segar yang dicampur dengan saus plum, minyak wijen, kacang tanah, rempah dan merica bubuk, dan kulit kayu manis bubuk.
Menurut kepercayaan masyarakat Tiongha, Yee Sang adalah simbol kemakmuran. Maka tak heran, setiap unsur makanan mempunyai makna.
"Contohnya sayuran yang diiris panjang artinya biar rezeki yang diberikan tidak putus-putus. Lalu diberi minyak artinya biar semua urusan lancar," terang perempuan berkacamata itu.
Begitu juga dengan rasa Yee Sang yang manis, asam dan asin dimaksudkan agar kehidupan pada tahun yang akan datang berlangsung aman tanpa bencana.
Namun hidangan tersebut bukan hanya sekedar hidangan biasa. Ada prosesi tersendiri yang harus dilalui sebelum menyantap hidangan itu. Setidaknya ada sembilan tahap yang dilakukan sebelum hidangan itu di makan.
Pertama, seluruh anggota keluarga mengangkat Yee Sang yang terdiri dari irisan wortel, lobak, buah persik, jeruk, melon, dan timun itu, dan kemudian taruh di tengah meja sambil mengatakan "fat chai yi sen" yang artinya yi sang kemakmuran.
Kemudian, peras jeruk nipis di atas ikan sambil mengatakan "ta ci ta li" yang artinya semoga kebersamaan, ketentraman selalu ada di keluarga anda.
Lalu taburkan rempah-rempah di atas ikan dan aduk rata sembari mengatakan "fung thiaw yi sun" yang artinya semoga anda selalu diberi kemudahan dan kelancaran dalam hidup.
Setelah itu, letakkan ikan di atas Yee Sang sambil mengatakan "nien nien yiu yi" yang artinya semoga tiap tahun rezeki anda selalu bertambah.
Tuang minyak di atas Yee Sang sambil mengatakan "yu man fu thien" yang artinya semoga kekayaan anda terus bertambah.
Lalu taruh minyak wijen di atas Yee Sang, sambil mengatakan "thien thien mie mie" yang artinya semoga kedamaian dan kebahagian selalu menyertai anda.
Tahap selanjutnya menaruh kerupuk di atas Yee Sang sambil mengatakan "wang cing man ti" yang artinya semoga kehidupan anda selalu berkilau bagaikan emas.
Kemudian taruh jahe di atas Yee Sang sambil mengatakan "hong win tang ho" yang artinya semoga keberuntungan selalu menyertai anda.
Terakhir, seluruh anggota keluarga berdiri dan mengaduk Yee Sang bersama sambil mengucap "lo hey lo hey lo kow fong sang sue hey".
"Biasanya yang paling ditunggu adalah tahapan yang terakhir, karena semakin tinggi adukan Yee Sang maka semakin tinggi pula keberuntungan," jelas Aletta.
Bahkan dulu ketika masih kanak-kanak, kenang Aletta, Yee Sang sering dilempar ke atas baru kemudian di makan bersama.
"Tapi sekarang tidak lagi. Mungkin mulai malu, karena sudah pada besar," kata dia sembari tersenyum.
Tradisi Kuno
Tradisi menyantap Yee Sang itu berasal dari kawasan pantai selatan China, wilayah Chaozhou dan Santou. Tradisi dipercaya sudah ada sejak 1.500 tahun yang lampau.
Menurut Manajer Eksekutif Restoran Collage, Jakarta, Jackson Tobing, mengatakan tradisi menyantap makanan itu dibawa oleh seorang nelayan yang menyantap bubur di suatu kampung.
"Bubur yang disantap nelayan itu berisi sayuran dan persis seperti Yee Sang. Nelayan itu yang memperkenalkan ke seluruh daratan China," kata Jackson.
Namun, ada juga sejarah yang mengatakan ide awal tradisi itu karena ingin memanfaatkan makanan berlebih usai merayakan tahun baru.
Karena tidak mau mubazir, maka penduduk setempat mencampur semua jenis makanan itu. Sehingga terciptalah hidangan unik membawa kemakmuran dan keberuntungan.
Namun sayangnya, tradisi ini mulai ditinggalkan terutama yang menetap di kota-kota besar.
"Bagi kalangan etnis Tiongha di Jakarta, tradisi ini memang kurang populer," ujar seorang warga Tionghoa lainnya, Stallone (26).
Stallone mengatakan tradisi itu masih dilakukan oleh etnis Tiongha yang bermukim di daerah.
"Kalau keluarga sendiri pada malam tahun baru itu hanya makan bersama keluarga. Silahturahmi dan makan bersama," kata Stallone yang berharap semakin beruntung di tahun mendatang.
Tradisi Yee Sang populer di Singapura dan Malaysia. Sejak beberapa tahun terakhir, tradisi itu kembali hidup di Indonesia melalui sejumlah restoran yang menawarkan hidangan keberuntungan itu.
Blog LowonganNet : Pusat Informasi Lowongan Terlengkap
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/LowonganNet
http://www.suarapembaruan.com/home/koh-didu-dan-keluarga-cukup-nikmati-kemeriahan-imlek-di-vihara/16293#Scene_1
Koh Didu dan Keluarga Cukup Nikmati Kemeriahan Imlek di Vihara
Sabtu, 21 Januari 2012 | 11:38
Warga berdoa di vihara menjelang perayaan Imlek [antara]
[TANGERANG] Panci lurik kecil yang dibawa di keranjang sepeda tua laki-laki separuh baya ini masih penuh dengan masakan siomay. Hari sudah menjelang sore. Tapi bagi Tan Hua Siang yang biasa disapa Koh Didu, justru sore itulah saatnya dia mengais rizki. Berkeliling kampung kawasan Ciben di kampung Lebakwangi Sewan Kelurahan Mekarsari Kecamatan Neglasari untuk berjualan somay "istimewa". Istimewa disini karena bukanhanya somay ikan tetapi juga ada campuran kulit babi sebagai makanan khusus.
Saat dia keluar rumah, rupanya memang sudah ditunggu-tunggu pembelinya terutama anak-anak dan ibu-ibu. "Aku pake kulit," ujar sejumlah anak berbarengan.
Dia dengan telaten meladeni pesanan anak-anak tersebut.
Menurut Koh Didu, setiap harinya dia bisa menjual somay ikan minimal 200 buah tidak termasuk kulit babi. Penghasilan kotornya mencapai Rp 50 ribu per hari. Uang inilah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, istri dan dua anak yang duduk di bangku SMA dan SD.
"Kami harus pinter-pinter menghemat uang, kalau tidak anak kami tidak bisa skeolah," ujar Didu.
Didu kemudian mengajak mampir ke rumahnya di RT 02 /04 Lebakwangi. Rumah yangs udah dihuni 15 tahun ini snagat sederhana. Dindingnya dari bambu dan beratap rumbia. Hanya lantainya yang sudah dikeramik. "Supaya bersih" ujarnya singkat.
Tidak tampak barang-barang mewah hanya sepasang kursi kayu. Terasnyapun masih dari tanah. Potret miskin dari warga Cina Benteng seperti Didu umumnya dialami juga oleh warga lainnya. Rumah mereka sangat sederhana. Mereka umumnya menyambung hidup dari bekerja sebagai pedagang kecil keliling. Ada juga yang menjadi buruh. Lingnkungan mereka juga padat dan kumuh denganjalan-jalan sempit dan cukup untuk sepeda motor. Bahkan ada jalan yang hanya cukup untuk badan melintas.
Menurut Didu dia berjualan setiap hari. Namun menjelang Imlek akan libur selama beberapa hari. Karena semua warga disana juga menghentikan kegiatan mereka menjelang imlek. Padahal, cerita Didu, mereka tidak melakukan kegiatan apapun hanya istirahat. Tidak pernah keluarga mereka dan keluarga Ciben lainnya merayakan Imlek secara berlebihan. "Paling-paling ke Vihara dan kerumah saudara," ujar Didu.
Di rumahnya juga tidak ada persiapan khusus. "Kami tidak pernah buat kue, kalau ada rejeki nanti mau beli kue yang dijual di pasar saja," ujar Ana, istri Didu. Imlek bagi keluarga ini berarti tidak berjualan dan mengunjungi Vihara.
Cukup sederhana.
Dia juga mengaku ada rasa ingin agar rumah mereka meriah dengan lampion dan pohon mew hua. Tapi menurutnya itu pasti akan menguras uang mereka yang diperoleh dengan susah payah. "Cukup menikmati lampion di Vihara," katanya.
Namun dia tidak kuasa menolak keinginan kedua anaknya untuk punya baju baru. "Keduanya sudah saya belikan, meski murah yang penting mereka senang," ujar Didu.
Tak hanya Didu, perayaan Imlek sederhana juga dialami keluarga Santi. "Selain memang tidak ada uang, saya juga masih sedih ditinggal anak saya yang meninggal Agustus tahun lalu," ujar Santi. Gadis berusia berumur 13 tahun itu meninggal karena terlambat dibawa ke rumah sakit setelah mengaku jatuh dan mengalami luak dalam kepalanya. "Saya terlambat ke rumah sakit karena tidak punya uang," ujarnya.
Menyambut Imlek tahun ini, Santi kemarin membuat kue nastar. Ini hanya untuk memenuhi permintaan putri keduanya. "Dari kemarin dia mendesak terus minta dibuatkan kue, jadi saya buat sendiri meski bahannya dari mentega yang murah," katanya.
Sama hal nya dengan Didu, perayaan Imlek berarti libur kerja dan berdiam di rumah. "Semua pada libur jualan, jadi kami hanya istirahat, minggu depan baru bergiat lagi cari uang," ujar Santi. [132]
Blog LowonganNet : Pusat Informasi Lowongan Terlengkap
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/LowonganNet
Kunjungi situs INTI-net
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
Subscribe our Feeds :
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet
*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*