Pendapat bung Salim tentang kekomunisan Pram (Pramoediya Ananta Toer, yang selanjutnya akan saya singkat dengan Pram saja) sangat menarik. Mengapa? Karna bung Salim bukan hanya seorang peneliti sejarah dan sosiologi, ahli di bidang militer, bekas duta besar dan sekarang seorang Profesor dan dosen aktif di sebuah Universitas, tapi juga bung Salim adalah juga seorang pemerhati sastra, dekat dengan banyak sastrawan Indonesia termasuk para sastrawan bekas Lekra, bergaul dengan mereka dari dekat dan sedikit banyak mengetahui tentang seluk beluk sastra dan kegiatan para sastrawannya.
Di sini saya tidak bermaksud membantah atau menyangkal pendapat bung Salim tentang Pram yang tidak komunis yang pada tulisan saya di bawah ini saya katakan Pram adalah seorang Komunis. Saya mengerti bila perbedaan opini ini dijadikan perdebatan, maka tidak akan menemukan bukti-bukti yang bisa meyakinkan setiap orang dan pendiskusian atau perdebatan akan menjadi panjang lebar tak berkesudahan dengan faedah yang sangat minim dan bahkan nihil. Namun opini tentang masaalah ini bisa diteruskan karena opini tidak memutlakkan kesimpulan.
Kita tahu bahwa PKI tidak punya sistim memberikan kartu anggota pada setiap anggota Partainya yang tercatat dalam adminstrasi Partai. Setiap anggota Partai yang diterima menjadi anggota Partai secara resmi (sesudah melalui masa percobaan dan pencalonan) akan disumpah dan hanya diketahui oleh grup di mana dia tergabung dengan disaksikan oleh seorang sekretaris Komite Partai. Ketika itu untuk masuk menjadi anggota Partai cukup sulit dan harus melalui masa ujian praktek perjuangan tapi bila ingin keluar dari Partai sangat mudah. Sama mudahnya seperti ingin keluar dari sebuah mailing-list dengan hanya meng-click UNSUBSCRIBE dan otomatis keanggotaan tanggal. Atau sama halnya umpamanya bila Pram ingin keluar dari keanggotaan PKI dengan menyebut: "SAYA BUKAN KOMUNIS"(sejenis Unsubscribe)dan tercoretlah nama Pram dari keanggotaan PKI tanpa harus menyerahkan tanda keanggotaan Partainya yang memang tak pernah dipunyai oleh setiap anggota PKI.
Jadi masuk PKI sangat sulit tapi bila ingin keluar sangatlah mudah , jadi tidak sama seperti orang yang memasuki sesuatu agama yang bukan main mudahnya( bahkan kadang-kadang dipaksa) tapi kalau ingin keluar bukan main sulitnyan bahkan bisa hingga bahaya mati.
Sesudah peristwa G30S dan terror besar yang dilancarkan suharto terhadap kaum Komunis dan PKI serta jutaan rakyat yang dicap Komunis dan simpatisan PKI, dan juga sesudah keluarnya para buangan Pulau Buru dan para tahanan dari ribuan penjara-penjara suharto dan juga sesudah diberlakukannya demokrasi jebakan (demokrasi Neo Liberalisme) oleh para penerus rezim suharto yang masih terus disokong Amerika, gejala UNSUBSCRIBE untuk menanggalkan jati diri dari PKI atau keanggotaan PKI menjadi sangat populer yang tentu saja di kalangan bekas kader-kader PKI dari tingkat terbawah hingga tingkat tertinggi hingga sekarang ini.
Untuk UNSUBSCRIBE dari bekas keanggotaan PKI dilakukan dengan banyak cara: kasar dan halus. Saya lebih tetarik menyoroti para bekas anggota PKI yang melakukan UNSUBSCRIBE dengaa cara "halus" yang sesungguhnya juga kasar dan bahkan banal.Umpamanya dengan menyatakan sebagai: "Saya dulu terbawa-bawa masuk PKI"atau :"Saya dulu dibujuk-bujuk lalu dipaksa masukPKI/Lekra/Pemuda Rakyat/CGMI/, IPPI/ Gerwani, BTI,dsb,dsb..."
Para UNSUBCRIBEr di level yang lebih tinggi lainnya di kalangan para seniman dan pengarang pernah dipentoli oleh Oei Hai Djoen dengan para komplotannya seperti Martin Aleida, Putu Oka Sukanta dll, dalam sebuah film dokumen bikinan Putu("CIDURIAN 19"), mereka saling berlomba melampiaskan sinisme mereka terhadap PKI dan para pemimpinnya. Saya sampai mengeluarkan air mata menyaksikan film yang sungguh memalukan dan tidak tahu diri itu dari orang-orang bekas PKI yang menyangkal kembali jati dirinya sebagai PKI di masa lalu yang hanya bertujuan menyatakan rasa kapoknya menjadi PKI dan sekarang ingin berdamai dengan semua musuh-musuh mereka dan ingin hidup tanpa dendam serta aman tentram kertorahardjo dalam masyarakat gemah ripah loh jinawi serta ingin membersihkan diri dari sampah sarap renik-renik bekas PKI masa lalu.
Ajip Rosidi, bekas teman remaja saya hingga usia uzur(sekarang sudah selesai) pernah menceritakan pada saya bagimana dia merasa kehilangan respek bahkan jijik terhadap pelukis Sujojono yang katanya menampik untuk dihubungkan dengan keluarganya sendiri yang baru dilepaskan dari Pulau Buru sambil mengatakan pada Ajip:"Saya tidak punya sangkut paut dengan mereka". Tentu saja karena semua mereka adalah PKI. Tapi Ajip saja yang semua kita tahu anti komunisnya setengah mati itu bisa merasa jijik dan kehilangan respek terhadap Sujojono yang pernah komunis, apalagi saya terhadap semua kaum UNSUBSCRIBEr sejenis Oei Hai Djoen dan komplotannya.
Kembali pada Pram. Bung Salim punya dokumen hidup yang disaksikannya sendiri melaui wawancara langsung dengan Pram di Pulau Buru yang katanya Pram menyatakan dirinya bukan komunis. Saya juga pernah baca di salah satu wawancara dengan Pram di mana dia menyatakan dengan tegas memang dia seorang Komunis. Sayang wawancara itu tak bisa ditemukan kembali dalam komputer saya yang bagaikan bibliotik purba yang hampir ambruk.
Tapi pertama tama saya melihatnya bukan dari dokumen-dokumen yang bisa simpang siur yang bisa saja sudah tak bisa ditelusuri kebenaran bukti-buktinya, tapi saya lebih melihat ke bukti-bukti perbuatan, pikiran, tulisan-tulisan Pram sendiri. Saya membaca cerita-cerita Pram sejak saya masih di kelas 5 sekolah dasar. Mengpa bisa demikian?. Juga karena kebetulan karena salah seorang abang saya Sobron adalah juga seorang penulis dan teman baik Pram dan pernah hidup sekamar dengan Chairil Anwar.
Sobron berlangganan hampir semua majalah Kebudayaan seperti Mimbar Indonesia, Indonesia, Siasat, Merdeka, Kisah dll dan juga dia mempunyai banyak sekali buku-buku Pram yang sedang dibacanya yang juga turut saya baca. Juga kebetulan, sejak kecil saya suka membaca dan kebetulan pula buku-buku yang jatuh ke tangan saya adalah buku-buku yang bermutu dan kebetulan lagi saya sangat suka membacanya. Kita tahu bahwa Pram pernah sangat anti Komunis yang kalau tidak salah dapat ditemukan dalam karyanya "SUBUH".Pendapat saya sama dengan bung Salim: saya sangat suka membaca karya-karya sastra Pram sebelum karya Pulau Burunya.
Tapi memang, pengarang juga sama seperti manusia biasa: berkembang pikirannya, kemanpuannya dan juga kesedarannya. Ketika saya membaca karya Pram yang anti Komunis saya bilang pada Sobron: "Komunis itu kejam, ya?", Saya masih ingat Sobron menjawab: "Nanti, kalau abang kita berkuasa, kita juga akan naik ke tiang gantungan".
Dalam perjalanan waktu selanjutnya, saya, Sobron dan juga Pram, pada menjadi komunis semuanya dan bahkan Sobron di hari tuanya menjadi Kristen yang dari keluarga Islam puluhan keturunan. Apakah Pram juga telah menjadi bukan Komunis dari yang dulunya sudah anti Komunis, lalu jadi komunis, lalu bukan Komunis? atau bahkan memang tidak tidak pernah jadi Komunis dan jadi Lekra karena dibujuk?. suharto selama lebih dari tiga puluh tahun mendidik rakyat Indonesia dengan bayonet dan meriam, dengan penjara dan buangan, dengan moral korupsi dan militerisme, dengan cinta uang dan anti Komunis.
Sedikit banyak manusia Indonesia kemasukan ideologi suhartoisme dan juga sedikit banayak rakyat Indonesia kemasukan ideologi Komunisme dan juga sedikit banyak manusia Indonesia punya watak pengkhianat dan pula sedikit banyak rakyat Indonesia punya watak patriotisme.Semua kita punya ideologi yang sedikit banyak itu, tidak terkecuali Pram, betapapun besarnya dia sebagai pengarang.
Salam,
ASAHAN,
Hoofddorp, 5 Februari 2012.
Sent: Sunday, February 05, 2012 3:57 AM
Subject: Apakah pramudya seorang komunis?
Apakah Pramudya Seorang Komunis?
Pramudya adalah pengarang prosa Indonesia favorit saya sejak masih sekolah dulu. Hampir semua tulisannya saya baca. Ada pun tentang kepengarangannya, Pram pernah menulis sebuah esei pada akhir tahun limapuluhan atau awal enampuluhan. Di sana ia bercerita tentang adanya suatu kekuatan yang mengerakkan tangannya untuk menulis. Dengan kata lain Pram waktu itu mengaku dirinya menulis prosa tidak dengan disain yang dipikirkan secara matang jauh sebelum menulis.Inilah saya kira yang menjelaskan mengapa karya-karya Pram sebelum periode Pulau Buru tampil dengan penuh passion.Contoh yang paling bagus dari novel yang demikian itu adalah novel"Bukan Pasar Malam." Novel ini adalah karya Pram yang menjadi favorit Saya. Novel saya baca tatkala saya masih SMA, ketika mahasiswa dan saya baca kembali beberapa tahun terakhir ini.
Novel "Bumi Manusia" saya baca untuk pertama kalinya ketika saya mahasiswa di Ohio sekitar seperempat abad lalu. Sekarang saya baru dapat kesempatan membacanya kembali, sekalian membaca sambungannya, yakni bagian kedua, ketiga dan keempat dari kuwatrologi yang juga disebut novel dari Pulau Buru. Maaf untuk mengatakan, dalam karya besar beribu lembar itu saya tidak lagi menemukan Pram yang saya kenal dulu, Pramudya yang sepontan, Pram yang penuh passion. Novel-novel Pulau Buru itu kering, dingin, tidak ada passion dan amat sereberal. Kalau saya masih bersabar membaca novel-novel tersebut (ya, perlu modal kesabaran dan ketekunan untuk membacanya) itu terutama karena kandungan sejarah dalam novel-novel tersebut. Sebagai sejarawan politik, buku Pram itu amat menolong saya. Tapi novel-novel tersebut sama sekali tidak memberi kenikmatan literer kepada saya seperti yang saya dapatkan dari novel "Bukan Pasar" dan karya-karya prosa masa lalu Pram.
Pengalaman yang sama juga saya alami dalam membaca novel "Para Priyai" karya Umar Kayam. Cerita-cerita pendek Umar Kayam yang sebelumnya banyak disiarkan oleh majalah sastra HORISON sangat memikat, imajinatif meski tidak memiliki passion seperti yang saya temui pada karya-karya lama Pram. "Para Priyai" yang saya duga lahir sebagai hasil "Provokasi literer" Pram kepada Kayam, menurut saya mengalami nasib seperti karya-karya Buru Pram. Sangat sereberal dan seperti tak ada gerak dari para tokohnya (Gerak tanpa keharuan, menurut istilah HB Jassin) yang hanya bagaikan anak wayang yang bergerak mengikuti skenario sang dalang, yakni Kayam ("Para Priyai") dan Pram (empat novel Pulau Buru).
Kalau Pram berkecenderungan historis, Kayam berkecenderungan sosiologis. Kesimpulan saya, kalau mau lebih tahu sejarah Indonesia pada masa pergantian abad 19 ke abad 20, bacalah empat novel Pram tersebut. Dan kalau Anda ingin lebih mengerti masyarakat Jawa, bacalah "Para Pariyai," karya Umar Kayam. Sekali lagi harus saya ulangi, baik empat novel Pram maupun novel Kayam, semuanya tidak memberi kesenangan literer kepada saya. Tapi keduanya berguna bagi saya sebagai seorang peneliti sejarah dan sosiologi. Kepada para profesor yang mengajar sejarah Indonesia dan masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat Jawa) sangat saya sarankan agar mereka menjadikan novel Kayam dan Pram itu sebagai bacaan wajib bagi para mahasiswa mereka.
Apakah Pramudya seorang komunis? Dalam wawancaranya dengan saya di Pulau Buru (Sebagian besar dimuat dalam majalah TEMPO dan dikutip oleh buletin TAPOL di London waktu itu, 1976 atau 1977) Pram membantah . "Saya bukan komunis,"katanya. Tapi data sejarah menunjukkan Pram adalah tokoh penting dan petinggi Lekra. Pram juga mengasuh lembaran kebudayaan LENTERA (lampiran budaya akhir pekan koran Partindo, Bintang Timur). Lewat lampiran kebudayaan itu secara sitematis Pram membabat (ini istilah Pram sendiri) semua musuh-musuh politik PKI. Jadi tidak terlalu penting apakah Pramudya itu seorang anggota PKI atau tidak, yang menjadi dasar perhitungan adalah kegiatannya yang amat menguntungkan PKI. Dan ketika Orde Baru menghabisi PKI, Pram ikut terjaring dan menghabiskan banyak umurnya di beberapa penjara dan Pulau Buru.
Bahwa Pram adalah tokoh sastra dan pengarang besar yang keanggotaannya dalam Lekra sangat menguntung PKI, itu jelas. Tapi PKI ternyata juga tidak bisa menjinakkan Pram. Cerita tentang kegagalan penjinakan ini banyak saya dengar dari teman-teman mantan anggota Lekra setelah mereka lepas dari tahanan Orde Baru. Nampaknya Pram terlalu besar untuk dikendalikan oleh PKI, apalagi hanya oleh Lekra. Pram adalah Pram. Tidak ada tempat yang nyaman baginya. Ia pernah dikirim ke Belanda oleh Yayasan Sticusa (dibiayai Belanda) tapi di sana juga ia tidak betah, dan mengeluh terus. Pram akhirnya masuk lingkungan komunis karena di sana ia mendapat tempat sebagai orang penting. PKI lewat Lekra memberinya pentas tempat dia manggung sebagai sutradara dan aktor sekali gus. Tapi seandainya PKI menang, maka nasib Pram kemungkinan besar akan seperti kebanyakan seniman Rusia yang mendukung revolusi Rusia. Kemudian dihabisi oleh komunis setelah Stalin berkuasa. Itulah pendapat kami waktu itu (sebelum Gestapu) mengenai hubungan Pram dengan PKI.
Yang sebenarnya menarik untuk dibahas, terutama oleh para sarjana sastra, adalah fenomena novel-novel Pram (karya Pulau Buru) dan Kayam, "Para Priyai." Mengapa percobaan kedua tokoh sastra itu tidak berhasil mencapai suatu tingkat literer dalam karya-karya tersebut setelah sebelumnya menghasilkan karya-karya bermutu literer yang tinggi?
Bung Salim (BS)
----- Original Message -----
From: ASAHAN
Sent: Sunday, February 05, 2012 9:46 PM
Subject: Menanggung Risiko Mempertahankan Takhta
Kesimpulan bahwa Pram dibujuk-bujuk agar masuk Lekra adalah kesimpulan fiktif. Pram tidak bisa menyangkal karena dia sudah meninggal. Tapi masih ada yang juga fiktif yaitu bila mengatakan Pram bukan seorang Komunis. Pram memang seorang tokoh pengarang besar yang kritis, dia juga mengkritik Komunisme dan Sosialisme yang dianggapnya salah dan berlebihan tapi dia sendiri tidak pernah mewnyangkal bahwa dia seorang Komunis dan Ideologi Pram tidak pernah luruh, tetap tegar hingga ahir hidupnya. Sementara orang memuji-muji Pram sambil mempreteli ideologinya sebagai Komunis demi kepentingan anti Komunis yang lebih halus dan tersembunyi.Ini sama dengan korupsi atau mengkorupsi harta benda orang yang sudah mati, memperkecil Pram dengan cara menciptakan kemunduran ideologinya.Tapi pembaca Pram yang kritis yang mengenal Pram akan bisa membedakan Pram yang difiksikan dengan Pram sebagaimana adanya dan juga bisa membedakan antara "mengerti Pram" dengan menyalah gunakan pengertiannya terhadap Pram yang dilakukan oleh sementara peneliti Pram.
ASAHAN.
----- Original Message -----
Leeghttp://www.sinarharapan.co.id/content/read/menanggung-risiko-mempertahankan-takhta/
03.02.2012 10:39
Menanggung Risiko Mempertahankan Takhta
(foto:SH/CR-20)
Pramoedya Ananta Toer, nama yang tak asing bagi perkembangan sastra di Indonesia. Ia telah meluncurkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam 41 bahasa asing.
Atas jasanya dalam dunia sastra, ia mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya Ramon Magsaysay Award di Manila, Filipina, 1995, UNESCO Madanjeet Singh Prize dari UNESCO, Prancis pada 1996, dan Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan, Madison, AS pada 1999.
Bahkan, karyanya yang berjudul Bumi Manusia akan difilmkan oleh sutradara Mira Lesmana dan Riri Riza. Rencananya, buku yang pernah dilarang terbit oleh Kejaksaan Agung pada 1981 itu akan dimulai syutingnya pertengahan 2012 ini.
Buku itu dilarang karena dituduh mempropagandakan ajaran Marxisme-Leninisme dan komunisme. Padahal, buku ini tidak menyebut sedikit pun tentang ajaran tersebut.
Ini karena pada 1960-an ia ditahan oleh rezim Soeharto, dituduh sebagai pro-komunis Tiongkok. Ia pun ditahan di Nusakambangan dan akhirnya dibuang ke Pulau Buru. Kisah kehidupan Pram itulah yang membuat Savitri Scherer membuat buku yang berjudul Pramoedya Ananta Toer: Luruh dalam Ideologi.
Savitri mengatakan keterlibatannya di organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bukan atas permintaannya. Lekra yang memintanya untuk masuk dalam organisasi sayap kiri itu.
"Sebetulnya dia di luar Lekra. Mereka yang merangkul dia," kata penulis buku, Savitri usai peluncuran buku Pramoedya Ananta Toer: Luruh dalam Ideologi di Galeri Cemara, Menteng, Jakarta, Kamis (2/2).
Savitri sangat mengagumi sosok Pram. Oleh karena itu, ia tertarik untuk mengenal lebih jauh sosoknya yang dikenal berani padam asanya itu.
"Pramoedya itu sangat konsisten dengan pendiriannya. Salah satu yang terbaik. Punya prinsip. Tidak ada orang seperti dia di masanya. Tak terlepas dari politik dan ekonomi pada masa itu; dan dia harus membayar keberaniannya itu di penjara. Jadi, sudah menjadi pilhan jalan hidupnya," kata wanita ini.
Perlu tiga tahun untuk menghasilkan buku tersebut. Ini karena penulis buku Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-pemikiran Priayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX itu meneliti sejarah dan novel yang ditulis Pram selama periode 1950-1980-an.
"Sebetulnya saya melihat Pram itu bersamaan dengan saya melihat buku Gadis Pantai dan Bumi Manusia lebih protektif terhadap masyarakat. Dia menulis bagaimana dia menerangkan situasi saat itu, sebab seorang pengarang mempunyai hak apa yang ia mau sampaikan," tuturnya.
Ungkapan Kreativitas
Menurutnya, pemerintah pada saat itu terlalu keras terhadap Pram sehingga ia dipenjara. Padahal, ia hanya ingin mengungkapkan kreativitasnya. Memang dia tegas.
Tapi kan orang boleh punya pendapat yang berbeda selama pendapatnya sejalan dengan pemerintah. "Dia kan cuma pengarang agak terlalu lama dan terlalu keras terhadap pemerintah," Savitri menerangkan.
Buku yang semula adalah disertasinya ini tak hanya berkutat pada biografi Pram, tetapi hubungan antara dunia nyata dengan dunia fiksi. "Kurang lebih buku ini tentang biografinya, penulisannya dan debat sastranya," kata Savitri.
Sastrawan dan kritikus film Indonesia, Seno Gumira Ajidarma mengatakan, buku tersebut menarik untuk dibaca. Apalagi, sosok Pram terkenal dengan keberaniannya. "Belum saya bongkar isi buku itu, tapi saya kira kondisi sosial yang membentuk bayangan-bayangan Pram akan kondisi politik dan ekonomi saat itu bahwa sistem yang diterapkan itu salah," ujarnya.
Menurut Seno, Pram itu sangat patriotis dan berusaha jujur lewat karyanya tersebut. Ini karena ia ingin mencoba menjadi manusia yang berusaha aktual.
Memang membaca buku ini membuat miris terhadap nasib Pram. Dia memang keras dan berpikir sangat serius. Salahnya, dia memakai bahasa. Itu yang menjadi risikonya. "Tapi, risikonya itu yang mempertahankan takhtanya," tuturnya. (CR-20)
Kunjungi situs INTI-net
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
Subscribe our Feeds :
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet
*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*