17 Februari 2012

[inti-net] Re: Pendidikan Politik

 

Saya kira tekanan untuk melakukan pendidikan politik bagi rakyat adalah tindakan yang paling realistis untuk masa sekarang ini. Tapi pendidikan politik untuk membangunkan kesedaran rakyat atas hak-hak mereka bukan selalu harus mengumbar teori yang tinggi-tinggi atau yang berbunyi gegap gempita. Rakyat butuh organisasi rakyat yang mengurusi dan mendukung kebutuhan mereka serta memperjuangkann cita-cita mereka: MENEGAKKAN KEKUSAAN RAKYAT. Untuk itu rakyat harus punya kekuatan organisasi politik yang akan membangun people power atas kesedaran politik yang tinggi dan bukan semata perjuangan ekonomis dan mengemis "demokrasi rakyat" pemberian penguasa borjuasi yang sekarang ini. Kaum intelektuil yang berpihak pada rakyat harus merevolusionerkan dirinya dan bersatu dengan rakyat dan bukan hanya menulis tulisan-tulisan politik yang mengambang di udara tak habis-habisnya tidak punya arti praktis bagi rakyat dan juga tanpa isi. Persis seperti yang disimpulkan Pak Tri Ramidjo: "Keadaan tidak akan berobah kalau cuma ngomong besar".
asahan.

----- Original Message -----
From: nursyahbani katjasungkana
Sent: Thursday, February 16, 2012 4:30 PM
Subject: Re:

Yang penting barangkali sekarang ini adalah kita berbuat kecil tapi konkrit baik dalam memberikan bantuan langsung yg bisa dirasakan masyarakat atau individu korban penindasan atau melakukan pendidikan politik rakyat agar berkesadaran pilitik tinggi. tapi memang masing2 kan ada peranan masing sesuai dg profesi. Para intelektiual tentu tak mungkin diharapkan berbuat kayak saya yg aktivis bantuan hukum bagi perempuan atau korban HAM lain. Mereka hendaknya tdk bicara atas kepentingan diri sendiri atau kepentingan yg lain shg menyesatkan spt yg kita lihat di TV tiap hari smp kita saja gelagepen alias tak mencerahkan apalagi rakyat biasa.

salam,

nur

-------------------------------------------------------

From: ASAHAN
To:
Sent: Thursday, 16 February 2012, 18:38
Subject: Re:

Y, pak Trikoyo. Berbuat besar sudah tak mampu melakukannya. Ngomong besar masih bisa supaya kedengaran banyak orang.
Salam besar,
asahan.

---- Original Message -----
From: Trikoyo
Sent: Thursday, February 16, 2012 6:34 AM
Subject: Re:

Keadaan tidak akan berubah kalau cuma ngomong besar. Apa pejuang zaman dulu cuma ngomong doang? Apa dibuang seperti bung aliarcham itu cuma ngomong?
Salam.
Tri Ramidjo.
---------------
----- Original Message -----
From: S. Utomo
Sent: Thursday, February 16, 2012 12:10 PM

Sdr Bonie Triyana, Arif Harsana, Awind, Ulfa Yb,
Tulisan-tulisan Anda sangat baik dan berguna untuk mendorong kaum intelektual Indonesia dewasa ini untuk mengubah orientasi dasar berpikirnya sesuai dengan keadaan Indonesia yang sangat amburadul.
Keadaan ini tentu tidak boleh terus berlanjut, karena akan membawa Indonesia ke jalan buntu ke depan. Keadaan seperti inilah yang dikehendaki oleh penguasa "ortodok kanan" di negeri kita. Namun perombakan dan pengubahan ini perlu waktu, terutama bagaimana peran kaum intelektualnya. Peran yang telah dan sedang dimainkan kaum intelektual Indonesia dewasa ini, sesuai dengan arah dan jalan dan cara di perguruan di negeri kita ialah agar kaum intelektual mengabdi menjadi sekrup-sekrup mesin kapitalis global agar terus eksis dan terus mencengkram di negeri kita. Sementara sebagian besar produk perguruan di negeri kita masih berkutat seperti jaman kolonial pada awal abad silam yang mencetak tenaga mengabdi investasi capital di Indonesia dengan politik etisnya. Mereka bangga, merasa terhormat dan percaya diri tinggi apabila bisa mengabdi kaum kolonial dan yang menggunakan juga sistem feodal di tanah jajahan. Mereka sangat mengharap menjadi budak intelektualnya dan merasa rendah diri, tidak terhormat bila mengabdi rakyat dan berjuang melawan kekuasaan kolonial dengan sistemnya. Mereka tidak sadar, bahkan menjadi orang terhina di mata rakyat yang sudah sadar akan posisi rakyat di negeri jajahan.
Inilah yang perlu digugat dan diajak perpikir bahwa negeri kita sejak kekuasaan beralih ke tangan Jendral Suharto hingga kini ini kembali menjadi tanah jajahan baru – neo kolonial, dengan sisten neo liberal yang menggunakan cara pandang pragmatisme dan kehidupan hedonisme.
Di negeri neo kolonial dengan sistem kapitalis global, negeri colonial Indonesia dewasa ini masih tetap dipakai oleh negeri kapitalis global – AS sebagai:
1.. tempat investasi kapitalnya untuk mengeruk bahan mentah seperti Freeport, New Mount,esson, kelapa sawit dan produk extrasit lainnya.
2.. tempat menjual barang dagangan seperti cara E.H.M.nya Obama, dengan memakasa Indonesia membeli kapal terbang, alat perang seperti tank Leopal (rosokan) dan lain-lainnya.
3.. pasar tenaga murah.
4.. Serdadu dan polisi murah untuk alat menindas dan menguasai rakyat.
5.. Last but not the least, alat kekuasaan pemerintah yang setia mengabdi mereka, seperti Jendral Suharto sampai kini Sby.
Bila kita semua tidak meneruskan pikiran, semangat, dan tekat untuk "merdeka" dengan mengubah cara pandang dasar kita semua yang masih obscurantisme dengan mdh untuk menjadi senjata juang tidak mungkin kita bisa membawa perubahan ke tatanan yang baru yang membuka jalan ke hari esok bahagia bagi rakyat Indonesia . Realisasi dan prakteknya tidak semudah yang dibicarakan tetapi ini adalah keniscahyaan yang tak bisa dihindari bila kita semua menghendaki pembaruan.

------------------

__._,_.___
Recent Activity:
Untuk bergabung di milis INTI-net, kirim email ke : inti-net-subscribe@yahoogroups.com

Kunjungi situs INTI-net   
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
Subscribe our Feeds :
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*
.

__,_._,___