14 Februari 2012

[inti-net] Siapa Yang Memainkan Bank Mutiara?

 

Majalah Inilah REVIEW Edisi Ke-24
Siapa Yang Memainkan Bank Mutiara?
inilah.com
Ekonomi - Senin, 13 Februari 2012 | 14:00 WIB

BANK Mutiara yang sudah lama ditawarkan ke publik, tiba-tiba ditawar Rp 6,75 triliun oleh Yawadwipa Companies. Salah satu tokoh Yawadwipa ternyata kerabat almarhum mantan Presiden Soeharto.

Inilah babak lanjutan dari kisah skandal Bank Century. Bank yang kini telah menjema menjadi PT Bank Mutiara Tbk dan masih dalam naungan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu, tiba-tiba saja ditawar oleh sebuah perusahaan private equity fund bernama Yawadwipa Companies. Bank Mutiara, yang sebelumnya takada yang melirik, kini seolah menjadi mutiara sejati--sesuai namanya yang sangat berharga.

Bagaimana tidak, begitu LPS mulai membuka periode kedua penjualan Bank Mutiara—mulai1 Februari 2012 hingga April 2012—tiba-tiba saja Yawadwipa secara terbuka menyatakan siap membeli dengan harga US$ 750 juta atau sekitar Rp 6,75 triliun. Ini nilai yang sama dengan dana yang disuntikkan pemerintah, ketika bank ini sudah dalam posisi bangkrut.

Apabila benar seperti itu, Yawadwipa agaknya bakal melakukan akuisisi 100% terhadap Bank Mutiara. Dan negara melalui LPS bakal mendapatkan kembali dana Rp 6,75 triliun yang dulu digunakan untuk `memperbaiki' Bank Century pada 2008. Dengan kata lain, skandal bail-out Bank Century pun, kelihatannya, harus tutup buku karena dana talangan sudah kembali ke kocek negara. Jadi, benar-benar tak ada kerugian negara seperti yang disebutkanoleh Badan Pemeriksa Keuangan(BPK).

Adanya skenario seperti ini, tentu membuat Yawadwipa Companies segera menjadi perhatian. Dan ternyata memang muncul sejumlah kejanggalan. Pertama, perusahaan yang luar biasa itu, baru berdiri per 9 Januari 2012 atau sekitar 3 pekan sebelum LPS mulai membuka penawaran tahap kedua untuk penjualan Bank Mutiara.

Kedua, Yawadwipa merupakan investor pertama yang mengklaim bakal mengajukan penawaran kepada LPS. Keganjilan ketiga, ekuitas Bank Mutiara per 30 September 2011 senilai Rp 998,8 miliar. Itu berarti tawaran Yawadwipa bernilai 7 kali lipat nilai ekuitas. Sebuah tawaran sangat berani.

Niat Yawadwipa membeli Bank Mutiara dilansir secara resmi sejak Senin pekan lalu. Dalam siaran persnya, Yawadwipa bakal membeli Bank Mutiara melalui Danareksa –selaku agen penjual-- sesuai dengan harga minimal yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 6,75 triliun.

Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan Yawadwipa, kondisi Bank Mutiara terus membaik. Antara lain bisa dilihat dari perolehan laba yang terus-menerus meningkat selama dua tahun terakhir. Dari laba Rp 69,8 miliar per September 2010, menjadi Rp 285 miliar pada September 2011. Apalagi aset Bank Mutiara juga terus tumbuh dari Rp 10,8 triliun per Desember 2010 menjadi Rp 12,6 triliun. Itu terjadi hanya dalam waktu 9 bulan.

Kerabat Soeharto

Benarkah Yawadwipa bakal benar-benar mengakuisisi Bank Mutiara? Menurut Ketua Dewan Komisioner LPS, Heru Budiargo, seluruh calon investor yang berniat membeli Bank Mutiara harus mengikuti prosedur resmi yang ditetapkan. Termasuk Yawadwipa Companies.

Selain itu, calon pemegang saham pengendali sebuah bank harus lolos syarat-syarat Bank Indonesia. Diantaranya, sebelum mengakuisisi sebuah bank, investor harus punya modal yang diambil dari kocek pribadi.

Masalahnya, belum jelas benar siapa investor di balik Yawadwipa. Dalam laman resminya www.yawacompanies.com,hanya disebutkan bahwa perusahaan bergerak di bidang jasa keuangan yang terdiversifikasi dengan perusahaan konsultasi dan jasa manajemen investasi. Kantor Yawadwipa tersebar di 4 kota yakni Jakarta, Singapura, Hongkong, dan Kuala Lumpur.

Hal yang agak benderang adalah penjelasan bahwa Yawadwipa didirikan oleh C. Cristopher Holm, seorang eks bankir dari Bank of America Merrill Lynch. Holm –yang akrab disapa Chad-- menjadi Presiden Direktur Yawadwipa dan akan menjadi komisaris di Komite Investasi Java Fund. Holm mengaku sudah menyertakan modal senilai US$ 25 juta di perusahaan tersebut. Prestasi Holm adalah menangani lebih dari 50 kesepakatan finansial dengan nilai lebih dari US$ 150 miliar atau setara Rp 1.350 triliun.

Saat peresmian Yawadwipa 9 Januari lalu, Holm menyebut nantinya perusahaannya akan dinamai Java Fund. Rencana besar perusahaan adalah menghimpun dana US$1 miliar untuk diinvestasikan ke Indonesia.

Sayang, Holm masih enggan menyebutkan siapa investor besar yang sudah berada di Java Fund. Alasannya, Yawadwipa belum mengantongi izin resmi dari regulator. Izin bakal keluar pada kuartal pertama 2012 ini. Toh dia menyebut, pengelola inti Java Fund nantinya sebagaian besar warga negara Indonesia.

Selain Holm, nama yang sudah terang-terangan muncul adalah Prasetyo PA Singgih yang menjabat Chief Operating Officer Yawadwipa. Prasetyo saat ini menjadi Ketua Departemen Hukum dan HAM Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar.

Pada Pemilu 2009 silam, dia tercatat sebagai calon anggota DPR dari daerah pemilihan Lampung II. Prasetyo ternyata juga salah satu Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesa (Kadin) Komite Tiongkok. Satu informasi penting lainnya, iakabarnya masih kerabat almarhum mantan Presiden Soeharto. Entah, kaitan persaudaraan dari sebelah mana.

Prasetyo inilah yang menegaskan bahwa Yawadwipa memang serius mengincar Bank Mutiara. "Ini bukan novel atau film.Kami bukan pengarang buku atau sutradara film, sehingga tidak ada yang misteriusatau yang ditutup-tutupi," ujar Prasetyo, Kamis pekan lalu.

Soal berbagai kecurigaan siapa investor besar di belakang Yawadwipa, Prasetyo mengatakan, tidak ada siapa-siapa di belakang Yawadwipa. Ini, kata dia, murnimerupakan private equity fund yang menghimpun dana dari dalam dan luar negeri, baik institusi dan individu. "Kemudian dana tersebut selanjutnya dikelola oleh sekelompok profesional. Jadi simpel dan clear!"katanya.

Sementara Holm mengatakan, Yawadwipa memiliki sumber pendanaan yang menarik untuk mengembangkan Bank Mutiara. Lalu darimana sumber pendanaan Rp 6,75 triliun? "Kami tidak bisa membuka informasi semacam itu secara sembarangan," kata Holm.

Toh, Holm mengaku mendapat dukungan beroperasinya Yawadwipa dari Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan dan Ketua Umum Kadin Suryo B Sulisto. Apabila target dana US$1 miliar itu terealisasi, Yawadwipa praktis bakal menjadi lembaga private equity fund terbesar di Indonesia, mengalahkan lembaga yang sudah ada.

Yawadwipa melalui Java Fund akan mengungguli Northstar, Saratoga, Quvat, Ancora, Falcon atau Recapital yang dalam setahun terakhir diestimasi mengumpulkan dana US$200 juta-US$800 juta.

Lalu benarkah seperti klaim Yawadwipa bahwa Bank Mutiara memang layak untuk dibeli senilai Rp 6,75 triliun? Beberapa bankir papan atas yang dihubungi InilahREVIEWmengatakan, membeli Bank Mutiara sama saja mencari masalah. Maklum, selain kondisinya belum sehat benar, bank yang tak lain penjelmaan Bank Century ini sudah terlanjur carut-marut dengan cawe-cawe berbagai kepentingan politik.

Pada akhir Desember lalu, Direktur Utama PT Bank Mutiara Tbk, Maryono mengatakan, sepanjang tahun 2011, aset bermasalah yang berhasil diselesaikan mencapai Rp 750 miliar. Saat Bank Century diambil alih oleh LPS, total aset bermasalah mencapai Rp 6,5 triliun. "Jadi total aset yang berhasil diselesaikan sejak diambil alih hingga Desember 2011 senilai Rp 2,5 triliun atau diperkirakan sekitar 38 persen,"katanya.

Masih menurut Maryono, di antara aset bermasalah yang belum diselesaikan dalam bentuk surat berharga nilainya mencapai Rp 2,8 triliun. "Untuk menyelesaikan itu, kami menggunakan langkah-langkah hukum,"kata Maryono.

Sementara aset bermasalah lain seperti kredit dan letter of credit (L/C) penyelesaiannya sudah mencapai 50%. Kredit bermasalah misalnya, dari total Rp1,6 triliun, berhasil diselamatkan Rp 800 miliar. Sementara L/C bermasalah Rp 1,7 triliun telah diselamatkan Rp 900 miliar. Terlepas dari keberhasilan versi Maryono ini, agaknya tunggakan-tunggakan inilah yang disebut para bankir tadi sebagai `cari masalah'.

Artikel selengkapnya bisa disimak di majalah Inilah REVIEW edisi ke-24 yang terbit Senin, 13 Februari 2012. (*)

__._,_.___
Recent Activity:
Untuk bergabung di milis INTI-net, kirim email ke : inti-net-subscribe@yahoogroups.com

Kunjungi situs INTI-net   
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
Subscribe our Feeds :
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*
.

__,_._,___